Tema dan Ayat Tahun 2012

TEMA :

MENJADI GEREJA YANG BERTUMBUH BERSAMA MASYARAKAT

Ayat Tahun 2012

Yesus Kristus berkata : " Kekuatan saya dibuat sempurna dalam kelemahan ".









Rabu, 17 Oktober 2012

PENELAAHAN ALKITAB PEMUDA


PENELAAHAN ALKITAB PEMUDA
DALAM RANGKA HUT GKPB KE 81

Thema :
“Menjadi Gereja Yang Bertumbuh Bersama Masyarakat”

Sub Thema :
“Bertumbuh dalam Kasih Karunia dan Pengampunan”

Bahan : Yesaya 1: 1-31

Tema generatif yang disiapkan berdasarkan Yesaya 1: 1-31 adalah Sejatikah ibadahku?. Tema ini diangkat berdasarkan kenyataan zaman sekarang, di mana ibadah seringkali dianggap hanya sebagai rutinitas belaka tanpa dihidupi, tanpa dijiwai. “Yang penting saya hadir” atau “yang penting saya memberi persembahan” merupakan ungkapan yang sudah tidak asing di telinga kita. Padahal, ibadah merupakan salah satu sarana manusia bertemu dengan Sang Pemberi Hidup dan sesama penerima hidup. Banyak orang seringkali lupa bahwa ibadah ialah mempersembahkan hidup yang apa adannya di hadapan Sang Pemberi Hidup; ibadah juga sebagai sarana untuk manusia mengucap syukur untuk segala sesuatu yang telah Tuhan anugerahkan. Karena terlalu terbiasa inilah ‘jiwa ibadah’ perlahan-lahan menguap. Selain itu, pemahaman orang akan ibadah hanya seputar di gereja, di wilayah pelayanan, tanpa menyadari bahwa melayani orang yang membutuhkan uluran tangan kita (orang miskin, yatim-piatu, dll) pun termasuk ibadah.  “Sejatikah ibadahku?” Sekiranya dapat ‘menyentil’ hati nurani kita yang terjebak dalam formalitas dan sikap individual tingkat tinggi.

Yesaya 1 merupakan bagian dari kitab Proto/pertama Yesaya, nubuat dari nabi Yesaya sebelum bangsa Israel dibuang ke Babel. Letak Israel saat itu sangatlah strategis untuk perdagangan sehingga menambah potensi dan kekayaan Negara. Oleh karena itu, timbullah golongan pedagang yang kaya dan berpengaruh. Mereka inilah yang turut mempengaruhi para pemimpin dan pejabat sehingga menimbulkan gejolak-gejolak sosial dan kemerosotan moral, kesenjangan yang sangat antara si kaya dan si miskin, pelecehan keadilan dan kebenaran dan sebagainya.

Suasana yang bisa dikatakan begitu ‘cerah’ segera berubah menjadi suram karena ‘awan gelap’ yang menudungi mereka. Awan gelap yang dimaksud yaitu timbulnya adikuasa baru yang datang dari Timur Laut, yaitu Asyur. Pada awalnya Israel Utara yang jatuh ke tangan Asyur – Yehuda mengalah terhadap Asyur sehingga masih bisa selamat. Namun pada akhirnya, Yehuda pun memberontak terhadap Asyur dengan bantuan Mesir. Di situasi inilah Yesaya muncul dan memberikan pesannya. Yesaya menasihatkan agar Yehuda tetap bersandar hanya kepada Tuhan, dan jangan kepada Negara lain.

Yesaya 1 : 1-31 merupakan rangkaian dari tema besar Nubuat-nubuat mengenai Yehuda dan Sion (1:1-5:30). Yesaya 1 sendiri berbicara beberapa tema berbeda sekaligus yaitu Pengeluhan Tuhan tentang kefasikan umat-Nya (1:2-9), Seruan untuk meninggalkan ibadah yang sia-sia (1:10-20), hukuman yang mengerikan atas Israel (1:21-28), dan kultus kesuburan Kanaani yang sia-sia – Baalisme (1: 29-31).

Dalam PA ini, akan dibahas secara mendalam adalah Yesaya 1: 10-20, seruan untuk meninggalkan ibadah yang sia-sia, namun tidak meninggalkan tema-tema yang lain sepenuhnya, karena tema lain turut membangun konteks perikop yang telah dipilih.

Ayat 2-9, digambarkan keluhan Tuhan terhadap kefasikan umat-Nya, umat yang dianggap sebagai pilihan-Nya. Betapa kecewanya Tuhan terlihat dari kata-kata-Nya yang tidak lagi menyebut “umat-Ku” terhadap bangsa Israel melainkan “bangsa yang berdosa” istilah yang hanya dipakai untuk bangsa “kafir”, bangsa selain Israel yang adalah am YHWH. Ini juga menunjukkan bahwa Israel benar-benar sudah murtad sama sekali. Oleh karena itu, pada ayat 10-20, nabi memperserukan pertobatan bagi bangsa Israel.

Pada abad ke-8 SM merupakan zaman yang makmur bagi Negara di Timur Tengah, termasuk Israel, karena letaknya yang strategis untuk jalur perdagangan. Kekayaan yang di dapat oleh, terutama pemimpin Israel, sayangnya disalahgunakan dalam ibadah mereka yang dikatakan penuh kemunafikan.

Ayat 10-15. Jika pada ayat-ayat sebelumnya Israel dinyatakan sarat dengan kesalahan dan kejahatan, maka dalam ayat ini dinyatakan bahwa inti dosa mereka adalah ibadah yang penuh dengan kemunafikan terhadap Tuhan. Kehidupan religius mereka diganti dengan kegiatan munafik yang hanya untuk memuaskan diri sendiri dan sebagai suatu pamer kesalehan diri sendiri. Hal itu diperlihatkan dengan banyaknya korban persembahan, pesta-pesta perayaan yang meriah, sambil menaikkan doa dengan tangan menengadah kepada Tuhan, namun itu semua sia-sia di mata Tuhan. IA malah sangat membenci perayaan yang mereka adakan, dan persembahan yang mereka bawa adalah kejijikan bagi-Nya, karena mereka membawa persembahan dan doa mereka dengan tangan yang berlumuran darah serta mereka menelantarkan janda dan yatim yang seharusnya diperhatikan (ayat 16-17). Karena menurut tatanan sosial orang Israel pada zaman dulu, janda dan anak-anak yatim menduduki kelas sosial yang terendah.

Ayat 16-17, Tuhan  menginginkan keadilan bagi anak yatim dan para janda lewat orang-orang di sekitar mereka. Oleh karena itu yang pertama, Tuhan ingin mereka (dapat dikatakan para pejabat dan petinggi Israel) bertobat dari segala tingkahnya yang jahat serta meninggalkan ibadah mereka yang sia-sia karena meskipun mereka beribadah, mereka tetap berbuat jahat, melakukan praktek ketidakadilah, membunuh, serta tidak perduli terhadap anak-anak yatim dan para janda. Oleh karena itu, nabi menyerukan kepada umat untuk bertobat dan lebih peduli serta mengusahakan keadilan bagi janda dan anak yatim.

Ayat 18-20, berisi pengampunan dosa yang diberikan oleh Tuhan. Berita pengampunan dosa ini tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan ayat yang sebelumnya, dimana kecaman dan kekecewaan Tuhan sangat nampak. Selain itu di ayat ini diberikan dua pilihan bagi bangsa Israel yaitu jikalau mereka mau menurut dan mau mendengar firman-Nya maka dosa mereka yang banyak itu dihapuskan dan dapat memakan hasil yang baik dari negeri mereka dan jika mereka tetap dengan dosa mereka, maka tidak ada keselamatan bagi mereka. Bangsa Israel sendiri yang harus memilih dan menentukan tindakan mereka sebagai respon terhadap anugerah Tuhan. Nabi pun pada ayat 20 menegaskan bahwa “sungguh, Tuhan yang mengucapkannya” secara implisit berkata turutilah kata Tuhan.

Ayat 21-31 merupakan hukuman atas Yerusalem. Hukuman ini diberikan karena kenistaan Yerusalem. Namun tujuan dari hukum ini ialah menjernihkan dan membangun kembali Yerusalem.

Kita harus menyadari bahwa ibadah itu bukan saja mengenai bagaimana membangun relasi yang intim bersama dengan Tuhan saja, tetapi bagaimana membangun relasi yang baik dengan sesama, terutama sesama yang sangat membutuhkan kita. Saya secara pribadi akan terlebih dahulu memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan yang selama ini rusak, di mana hanya ada formalitas dan biar ‘dilihat’ orang bahwa kita beribadah tanpa saya menjiwainya, tanpa hati saya berada dalamnya. Saya bukan siapa-siapa. Dan bila disentil Tuhan pun saya akan roboh. Secara interpersonal bisa kita mulai dengan menceritakan, setidaknya, pada keluarga kita tentang apa yang kita dapat dalam PA hari ini. Saya akan mengatakan kepada mereka bahwa ibadah bukan hal yang biasa-biasa saja, namun lebih dari yang biasa. Secara sosial-kultural, mungkin kelompok PA ini dapat mengunjungi anak-anak yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Anak, atau anak yatim dan orangtua yang di pangti jompo.

Beberapa pertanyaan pengantar dalam diskusi kelompok.
1.      Berkaitan dengan Thema pelayanan empat tahun:”Menjadi gereja yang bertumbuh bersama masyarakat”, apakah yang harus dilakukan oleh kaum muda terhadap masyarakat yang ada di lingkungan kita.
2.      Berkaitan dengan thema Hari Ulang tahun GKPB yang ke 81:”Bertumbuh dalam kasih karunia dan Pengampunan” dan dikaitkan dengan bacaan firman Tuhan yang telah kita bahas bersama,apakah peran pemuda dalam masyarakat di mana pemuda hadir?
3.      Kita patut bangga ada semarak ritual dikalangan umat beragama di Bali, atau mungkin di GKPB secara khusus, bagaimana pandangan anda selaku pemuda, bagaimana dengan aktualitasnya? Apakah sudah seimbang antara ritual dan aktualitasnya? Atau keberagamaan hanya sebatas rutual saja? Bagaimana lembaga keagamaan GKPB pada khususnya melihat kenyataan seperti:kemiskinan, kemerosotan moral dan lain sebagainya?
4.      Dalam Persekutuan pemuda/I GKPB apa yang akan anda lakukan ketika melihat fenomena seperti kemiskinan, pemerkosaan, pencurian dan lain sebagainya?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar